Selasa, 03 Oktober 2017

AUDIT TEKNOLOGI SISTEM INFORMASI #



AUDIT TEKNOLOGI SISTEM INFORMASI #


BAB 1
PENDAHULUAN

1.1       Latar Belakang

Audit merupakan suatu proses pengumpulan data, penilaian ataupun pengevaluasian yang dilakukan untuk menilai sesuatu dengan kriteria yang mendasarinya. Audit terdiri dari beberapa macam seperti : audit keuangan, audit kepatuhan dan audit operasional. Kebutuhan akan pengambilan sebuah keputusan yang cepat dan akurat, persaingan yang ketat, serta pertumbuhan dunia usaha menuntut dukungan penggunaan tekhnologi mutakhir yang kuat dan handal. Dalam konteks ini keberhasilan organisasi akan sangat dipengaruhi oleh kemampuan dalam memanpaatkan teknologi informasi secara optimal.

1.2       Rumusan Masalah


            Rumusan masalah dalam penulisan ini adalah :
    a.       Pengertian Audit Sistem Informasi 
    b.      Sejarah Audit Sistem Informasi / Teknologi Informasi 
    c.       Jenis-Jenis Audit Sistem Informasi
    d.      Tujuan Audit Sistem Informasi
    e.       Metode Audit Sistem Informasi
    f.       Prosedur Audit
    g.      Tahapan Audit Sistem Informasi

1.3       Tujuan Penulisan
     Tujuan dari penulisan adalah untuk memahami  dan mengerti  apa yang dimaksud dengan audit sistem informasi. dapat  memahami  dan mengerti  apa tujuan audit sistem informasi dan dapat  memahami  dan mengerti bagaimana konteks pelaksanaan dari audit sistem informasi.

BAB 2
PEMBAHASAN

2.1       Pengertian Audit Sistem Informasi
Audit Sistem Informasi (Informatin System Audit) atau EDP Audit (Electronic Data Processing Audit) atau computer audit  adalah proses pengumpulan data dan pengevaluasian bukti-bukti untuk menentukan apakah suatu sistem aplikasi komputerisasi telah menetapkan dan menerapkan sistem pengendalian internal yang memadai, semua aktiva dilindungi dengan baik atau disalahgunakan serta terjaminnya integritas data, keandalan serta efektifitas dan efesiensi penyelenggaraan sistem informasi berbasis komputer (Ron Weber 1999:10).

2.2       Sejarah Audit Sistem Informasi / Teknologi Informasi
         Audit SI/TI : aktivitas pengumpulan dan pengevaluasian bukti untuk penentuan apakah proses TI yang berlangsung dalam perusahaan telah dikelola sesuai dengan standar dan dilengkapi dengan objektif kontrol untuk mengawasi penggunaannya serta apakah telah memenuhi tujuan bisnis secara efektif
Audit SI/TI dapat menekankan pada penggunaan keterpaduan antara uji kepatutan maupun uji secara substantif yang komposisi/banyaknya digunakan secara seimbang sesuai dengan kondisi proses yang diaudit
Audit SI/TI yang pada awalnya lebih dikenal sebagai EDP Audit  (Electronic Data Processing) telah mengalami perkembangan yang pesat.
Perkembangan Audit SI/IT ini didorong oleh kemajuan teknologi dalam sistem keuangan, meningkatnya kebutuhan akan kontrol IT, dan pengaruh dari komputer itu sendiri untuk menyelesaikan tugas-tugas penting.
Pemanfaatan teknologi komputer ke dalam sistem keuangan telah mengubah cara kerja sistem keuangan, yaitu dalam penyimpanan data, pengambilan kembali data, dan pengendalian.
Sistem keuangan pertama yang menggunakan teknologi komputer muncul pertama kali tahun 1954. Selama periode 1954 sampai dengan 1960-an profesi audit masih menggunakan komputer.
Pada pertengahan 1960-an terjadi perubahan pada mesin komputer, dari mainframe menjadi komputer yang lebih kecil dan murah.
Pada tahun 1968, American Institute of Certified Public Accountants (AICPA) ikut mendukung pengembangan EDP auditing.
Sekitar periode ini para auditor bersama-sama mendirikan Electronic Data Processing Auditors Association (EDPAA).
Tujuan lembaga ini adalah untuk membuat suatu tuntunan, prosedur, dan standar bagi audit EDP.
Pada tahun 1977, edisi pertama Control Objectives diluncurkan. Publikasi ini kemudian dikenal sebagai Control Objectives for Information and Related Technology (CobiT).
Tahun 1994, EDPAA mengubah namanya menjadi Information System Audit (ISACA).

2.3       Jenis-Jenis Audit Sistem Informasi
Audit sistem informasi dapat digolongkan dalam tipe atau jenis-jenis audit sebagai berikut :
a.      Audit Laporan Keuangan (Financial Statement Audit)
Adalah audit yang dilakukan untuk mengetahui tingkat kewajaran laporan keuangan yang disajikan oleh perusahaan (apakah sesuai dengan standar akuntansi keuangan serta tidak menyalahi uji materialitas). Apabila sistem akuntansi organisasi yang diaudit merupakan sistem akuntansi berbasis komputer, maka dilakukan audit terhadap sistem informasi akuntansi apakah proses/mekanisme sistem dan program komputer telah sesuai, pengendalian umum sistem memadai dan data telah substantif.
b.      Audit Operasional (Operational Audit)
Audit terhadap aplikasi komputer terbagi menjadi tiga jenis, antara lain :
1.    Post implementation Audit (Audit setelah implementasi)
Auditor memeriksa apakah sistem-sistem aplikasi komputer yang telah diimplementasikan pada suatu organisasi/perusahaan telah sesuai dengan kebutuhan penggunanya (efektif) dan telah dijalankan dengan sumber daya optimal (efisien). Auditor mengevaluasi apakah sistem aplikasi tertentu dapat terus dilanjutkan karena sudah berjalan baik dan sesuai dengan kebutuhan usernya atau perlu dimodifikasi dan bahkan perlu dihentikan. Pelaksanaan audit ini dilakukan oleh auditor dengan menerapkan pengalamannya dalam pengembangan sistem aplikasi, sehingga auditor dapat mengevaluasi apakah sistem yang sudah diimplementasikan perlu dimutakhirkan atau diperbaiki atau bahkan dihentikan apabila sudah tidak sesuai kebutuhan atau mengandung kesalahan.
2.   Concurrent  Audit (Audit Secara Bersama)
Auditor menjadi anggota dalam tim pengembangan sistem (system development team). Mereka membantu tim untuk meningkatkan kualitas pengembangan sistem yang dibangun oleh para sistem analis, designer dan programmer dan akan diimplementasikan. Dalam hal ini auditor mewakili pimpinan proyek dan manajemen sebagai quality assurance.
3.   Concurrent Audits (Audit Secara Bersama-sama)
Auditor mengevaluasi kinerja unit fngsional atau fungsi sistem informasi (pusat/instalasi komputer) apakah telah dikelola dengan baik, apakah kontrol dalam pengembangan sistem secara keseluruhan sudah dilakukan dengan baik, apakah sistem komputer telah dikelola dan dioperasikan dengan baik.
Dalam mengaudit sistem komputerisasi yang ada, audit ini dilakukan dengan mengevaluasi pengendalian umum dari sistem-sistem komputerisasi yang sudah diimplementasikan pada perusahaan tersebut secara keseluruhan.
Saat melakuan pengujian-pengujian digunakan bukti untuk menarik kesimpulan dan memberikan rekomendasi kepada manajemen tentang hal-hal yang berhubungan dengan efektifitas, efisiensi, dan ekonomisnya sistem.

2.4       Tujuan Audit Sistem Informasi
         Tujuan audit sistem informasi menurut Ron Weber (1999:11-13) secara garis besar terbagi menjadi empat tahap, yaitu :
a.      Pengamanan Aset
Aset informasi suatu perusahaan seperti perangkat keras (hardware), perangkat lunak (software), sumber daya manusia, file data harus dijaga oleh suatu sistem pengendalian intern yang baik agar tidak terjadi penyalahgunaan aset perusahaan. Dengan demikian sistem pengamanan aset merupakan suatu hal yang sangat penting yang harus dipenuhi oleh perusahaan.
b.      Menjaga Integritas Data
Integritas data (data integrity) adalah salah satu konsep dasar sistem inforamasi. Data memeiliki atribut-atribut tertentu seperti: kelengkapan, keberanaran, dan keakuratan. Jika integritas data tidak terpalihara, maka suatu perusahaan tidak akan lagi memilki hasil atau laporan yang beanr bahkan perusahaan dapat menderita kerugian
c.       Efektifitas Sistem
Efektifitas sistem informasi perusahaan melikiki peranan pentigndalam proses pemgambilan keputusan. Suatu sistem informasi dapat dikatakan efektif bila sistem informasi tersebut telah sesuai dengan kebutuhan user
d.      Efisiensi Sistem
Efisiensi menjadi hal yang sangat penting ketika suatu komputer tidak lagi memilki kapasitas yang memadai atau harus mengevaluasi apakah efisiensi sistem masih memadai atau harus menambah sumber daya, karena suatu sistem dapat dikatakan efisien jika sistem informasi dapat memenuhi kebutuhan user dengan sumber daya informasi yang minimal.
e.       Ekonomis
Ekonomis mencerminkan kalkulasi untuk rugi ekonomi (cost/benefit) yang lebih bersifat kuantifikasi nilai moneter (uang). Efisiensi berarti sumber daya minimum untuk mencapai hasil maksimal. Sedangkan ekonomis lebih bersifat pertimbangan ekonomi.

2.5       Metode Audit Sistem Informasi
a.       Audit disekitar komputer (Audit Around The Computer)
Audit around the computer dilakukan pada saat:
Ă˜ Dokumen sumber tersedia dalam bentuk kertas (bahasa non-mesin), artinya masih kasat mata dan dilihat secara visual.
Ă˜  Dokumen-dokumen disimpan dalam file dengan cara yang mudah ditemukan.
Ă˜  Keluaran dapat diperoleh dari daftar yang terinci dan auditor mudah menelusuri setiap transaksi dari dokumen sumber kepada keluaran dan sebaliknya.
b.      Audit melalui komputer (Audit Through The Computer)
Ă˜  Audit through the computer adalah dimana auditor selain memeriksa data masukan dan keluaran, juga melakukan uji coba proses program dan sistemnya atau yang disebut dengan white box, sehinga auditor merasakan sendiri langkah demi langkah pelaksanaan sistem serta mengetahui sistem bagaimana sistem dijalankan pada proses tertentu.
c.       Audit dengan komputer (Audit  With The Computer)
Pendekatan ini dilakukan dengan menggunakan komputer dan software untuk mengotomatisasi prosedur pelaksanaan audit. Pendekatan ini merupakan cara audit yang sangat bermanfaat, khususnya dalam pengujian substantif atas file dan record perusahaan. Software audit yang digunakan merupakan program komputer auditor untuk membantu dalam pengujian dan evaluasi kehandalan data, file dan record perusahaan.
Keunggulan menggunakan pendekatan ini  adalah dapat melaksanakan tugas audit yang terpisah dari catatan klien yaitu dengan mengambil copy data atau file untuk di test dengan komputer lain. Kelemahannya adalah upaya dan biaya untuk pengembangan relatif besar.

2.6       Prosedur Audit
            Prosedur Audit meliputi beberapa kegiatan, yaitu:
 a.  perencanaan audit,
 b.  penjadwalan audit,
 c.  menjamin kompetensi auditor dan pemimpin tim audit,
 d.  memilih tim audit yang sesuai,
 e.   menetapkan peran dan tanggung jawab,
 f.  melakukan audit,
g.  mempertahankan catatan program audit,
h. emantauan kinerja dan efektifitas,
i.  pengaduan pelacakan,
j.  melaporkan kepada manajemen pusat atas mengenai prestasi keseluruhan

2.7       Tahapan Audit Sistem Informasi
Tahapan Audit

Subjek Audit

Tentukan/identifikasi unit/lokasi yang diaudit

Sasaran Audit

Tentukan sistem secara spesifik, fungsi atau unit organisasi yang akan diperiksa
diperiksa

Jangkauan Audit

Identifikasi sistem secara spesifik, fungsi atau unit organisasi untuk dimasukkan lingkup pemeriksaan
dimasukkan lingkup pemeriksaan
Rencana Pre-audit

Identifikasi kebutuhan keahlian teknik dan sumber daya  yang   diperlukan untuk audit.
Identi fikasi sumber bukti untuk tes atau review seperti fungsi flowchart, kebijakan, standar  prosedur dan kertas kerja audit sebelumnya.

Prosedur   audit   dan
langkah - langkah
pengumpulan bukti audit

1.        Identifikasi dan pilih pendekatan audit untuk memeriksa dan menguji pengendalian intern.
2.        Identifikasi daftar individu untuk interview.
3.        Identifikasi dan menghasilkan kebijakan yang berhubungan dengan bagian, standar dan pedoman untuk interview.
4.        Mengembangkan instrument audit dan metodologi penelitian dan pemeriksaan kontrol internal
5.        pemeriksaan kontrol internal

Prosedur untuk evaluasi

Ă¼  Organisasikan sesuai kondisi dan situasi.
Ă¼  Identifikasi prosedur evaluasi atas tes efektivitas dan efisiensi sistem, evaluasi kekuatan dari dokumen, kebijakan dan prosedur yang diaudit yang diaudit


Pelaporan hasil audit


Siapkan laporan yang objektif, konstruktif (bersifat membangun) dan menampung penjelasan auditee
menampung penjelasan auditee.




BAB 3
PENUTUP

3.1       Kesimpulan
            aktivitas pengumpulan dan pengevaluasian bukti untuk penentuan apakah proses TI yang berlangsung dalam perusahaan telah dikelola sesuai dengan standar dan dilengkapi dengan objektif kontrol untuk mengawasi penggunaannya serta apakah telah memenuhi tujuan bisnis secara efektif
 


BAB 4
DAFTAR PUSTAKA



Sabtu, 24 Desember 2016

REVIEW JURNAL " SISTEM PAKAR DIAGNOSA DAMPAK PENGGUNAAN SOFTLENS MENGGUNAKAN METODE BACKWARD CHAINING

Sistem Pakar Diagnosa Dampak Penggunaan Softlens
Menggunakan Metode Backward Chaining

Nurmala Mukhtar1, Samsudin
Jurusan Sistem Informasi, Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer, Universitas Islam Indragiri
Jl. Parit 1, Tembilahan Hulu, Tembilahan, Riau
E-mail: nurmala.mukhtar.ah@gmail.com1, samsudin_as_ad@yahoo.co.id
Masuk: 25 Mei 2014; Direvisi: 6 Juli 2014; Diterima: 15 Juli 2014
                                                              
ABSTRAK
Softlens adalah sejenis lensa yang dibuat dari bahan yang bersifat “lunak”, yaitu silicon hydrogen. Penggunaan softlens dalam jangka waktu lama dapat berpotensi menyebabkan iritasi mata, mata merah dan infeksi. Untuk itu diperlukan sebuah system pakar untuk membantu mendiagnosa dampak penggunaan softlens.
Pembangunan system pakar diagnosa dampak penggunaan softlens ini menggunakan metode backward chaining atau runut balik. Metode runut balik bekerja dengan cara menentukan penyakit yang diderita oleh pengguna softlens kemudian akan dijabarkan sebab-sebab penyakit tersebut.
Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa sistem pakar ini mempermudah pengguna soflens untuk melakukan diagnosa dampak penggunaan softlens berdasarkan gejala yang dialami, dan mengetahui cara penanggulangannya.
Kata kunci: backward chaining, sistem pakar, dampak penggunaan softlens.


Pendahuluan
Konsultasi terhadap seseorang yang memiliki keahlian (expertise) di bidang tertentu dalam menyelesaikan suatu permasalahan merupakan pilihan tepat guna untuk mendapatkan jawaban, saran, solusi, keputusan serta kesimpulan terbaik. Salah satu expertise yang menjadi tujuan masyarakat untuk berkonsultasi adalah dokter spesialis mata (ophthalmologist). Ophthalmologist selalu menangani pasien penderita penyakit mata antara lain gangguan akibat menggunakan softlens.
Softlens atau lensa kontak adalah salah satu alat kedokteran yang bertujuan sebagai pengganti kacamata bagi penderita yang memiliki penglihatan kurang. Namun seiring perkembangan zaman dan teknologi, softlens yang awalnya berfungsi sebagai pengganti kacamata untuk penderita gangguan mata kini berubah menjadi atribut mode atau style. Banyak dari kalangan remaja wanita maupun pria menggunakan softlens hanya untuk kepentingan gaya semata tanpa mengetahui akibat apa yang akan ditimbulkan oleh softlens yang terbuat dari plastik mengandung air. Jika konsumen menggunakannya dalam waktu relatif lama maka softlens akan menyerap air di permukaan mata, hal inilah yang dapat menyebabkan mata perih dan gangguan lainnya.
Penelitian tentang pembuatan sistem pakar menggunakan metode Forward Chaining berguna untuk membantu ketergantungan masyarakat terhadap para medis, memberikan informasi tentang diagnosa dampak dari penggunaan softlens pada mata yang mudah dipahami oleh masyarakat, dengan demikian program ini akan memberikan pembelajaran kepada masyarakat akan pentingnya teknologi informasi yang biasa dimanfaatkan sebagai penyedia informasi tentang berbagai macam penyakit dan solusi pengobatan. Sistem pakar ini tidak berarti menggantikan kedudukan dokter, tetapi hanya dalam pengambilan keputusan, karena mungkin bisa terdapat banyak alternatif yang harus dipilih secara tepat.


TUJUAN PENELITIAN
Berdasarkan pendahuluan diatas , terdapat beberapa tujuan penelitian dalam Sistem Pakar Diagnosa Dampak Penggunaan Softlens Menggunakan Metode Backward Chaining yaitu :
1. Menguji apakah sistem pakar diagnosa dampak penggunaan softlens dapat diterapkan oleh pengguna

2. Mendiagnosa dampak penggunaan softlens


RINGKASAN JURNAL
Ada sepuluh komplikasi yang biasa timbul akibat pemakaian softlens yaitu: noda kornea, blepharitis, reaksi alergi, sindrom mata kering, corneal edema, infeksi mata, infitrates, mocrobila keratitis, vaskularisasi kornea, dan giant papilary conjunctivitis. Kontek diagram menggambarkan desain sistem secara keseluruhan atau secara umum dimana sistem ini terdiri dari entitas pakar dan admin, masukan kemudian diproses oleh system dan menghasilkan keluaran seperti terlihat pada Gambar berikut . 

Data flow diagram level 0 menggambarkan orang yang menggunakan system selanjutnya diproses oleh sistem kemudian data disimpan pada data store, dari data yang telah disimpan tersebut dapat dipanggil kembali sesuai dengan keperluan pengguna sistem, seperti yang terlihat pada Gambar berikut.

Dalam mempresentasikan pengetahuan yang berupa fakta-fakta gejala, jenis gangguan softlens serta solusi menggunakan kaidah produksi yang ditulis dalam bentuk jika-maka (If-Then). Kaidah jika-maka menghubungkan antara gejala-gejala penggunaan softlens dan dampak penggunaan softlens.

Proses yang dilakukan pada fase basis pengetahuan dipresentasikan dengan langkah-langkah berikut yaitu: (1) Menentukan tabel basis pengetahuan, (2) Menyusun rules (aturan gejala), (3) Menentukan tabel keputusan dan (4) Membuat pohon keputusan. Proses ini terlihat pada Tabel 1, 2 dan 3.

Pengguna program ini dapat mengidentifikasi informasi yang terkait dengan system pakar mendiagnosa dampak penggunaan softlens, untuk lebih jelas dapat dilihat pada proses berikut. 1. masuk ke form pertanyaan. Terlihat pada Gambar berikut 
2.       Form pertanyaan ini akan menentukan gejala apa saja yang terdapat dari penyakit pada penderita pengguna softlens. Terlihat pada Gambar berikut
3. Form ini merupakan tahap akhir dari proses pertanyaan yang berisikan solusi dan keterangan mengapa terkena penyakit tersebut. Terlihat pada Gambar berikut

KESIMPULAN
Dari hasil penelitian  Sistem Pakar Diagnosa Dampak Penggunaan Softlens Menggunakan Metode Backward Chaining didapat beberapa kesimpulan diantaranya sebagai berikut, Dari pengujian yang dilakukan bahwa sistem pakar diagnosa dampak penggunaan softlens ini dapat diterapkan dan diterima oleh pengguna,(2) Dengan adanya sistem pakar ini akan mempermudah orang awam untuk melakukan diagnosa dampak softlens dan cara penanggulangannya dan Implementasi dalam inferensi menggunakan metode backward chaining sehingga dapat dengan mudah mengetahui gejala-gejala yang dialami pasien dalam mendiagnosa dampak penggunaan softlens.

DAFTAR PUSTAKA
Dahria, Muhammad. 2012. Implementasi Inferensi Backward Chaining untuk Mengetahui Kerusakan Monitor Komputer. Medan: STMK Triguna Dharma.
Erhet, Rudi. 2012. Sistem Pakar Mendiagnosa Penyakit Kulit. Universitas Islam Indragiri:  Tembilahan.
Fadhilah, A.N., Dini Destiani, dan Dhami Johar. 2012. Perancangan Aplikasi Sistem Pakar Penyakit Kulit pada Anak dengan Metode Expert System Development Life Cycle.
Jurnal Algoritma, ISSN. 2302-7339, Vol. 09, No. 13.
Handojo, A. dan M. Isa Irawan. 2009. Perancangan dan Pembuatan Aplikasi Sistem Pakar untuk Permasalahan Tindak Pidana terhadap Harta Kekayaan. Universitas Kristen Petra.
Hartati, Sri dan Sari Iswanti. 2008. Sistem Pakar dan Pengembangannya. Graha Ilmu: Yogya karta.
Lempao, Conny Theodora. 2011. Sistem Pakar untuk Mendiagnosa Kecendrungan Prilaku Abnormal. Yogyakarta: Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer AMIKOM.
Maradesa, Edar. 2012. Penerapan Metode Backward Chaining untuk Diagnosa Penyakit Katarak. Gorontalo: Universitas Negeri Gorontalo.
Minarni dan Rahmat Hidayat. 2013. Rancang Bangun Aplikasi Sistem Pakar untuk Kerusakan
Komputer dengan Metode Backward Chaining. Jurnal TEKNOIF, Vol.1, No.1.
Puspita, M., Zaenal Wafa, dan Afhal Syafnur. 2013. Aplikasi Sistem Pakar Web dalam Menganalisa Sakit Jiwa. Padang: Universitas Putra Indonesia.
Rachmawati, Dhani Johar, dan Ate Susanto. 2012. Aplikasi Sistem Pakar Diagnosa Penyakit Asma. Garut: Sekolah Tinggi Teknologi.
Ramadhan, Mukhlis. 2011. Sistem Pakar dalam Mengidentifikasi Penyakit Kanker pada Anak Sejak Dini dan Cara Penanggulangannya. Medan: STMK Triguna Dharma.
Reisa, R., Jusak dan Dantjawati. 2013. Sistem Pakar untuk Diagnosa Penyakit Mata. Surabaya:STIKOM.
Saputra, Andri. 2011. Sistem Pakar Identifikasi Penyakit Paru-paru pada Manusia Menggunakan Pemrograman Visual Basic 6.0. Jurnal Tekonomatika, Vol 1, No. 3.
Sutojo, T., Edy Mulyanto, dan Vincent Suhartono. 2010. Kecerdasan Buatan. Yogyakarta:Andi.
Syahril, Muhammad. 2011. Konversi Data Training tentang Penyakit Hipertensi menjadi Bentuk Pohon Keputusan dengan Teknik Klasifikasi Menggunakan Tools Rapid miner 4.1. Jurnal SAINTIKOM, Vol.10, No.2.










                     





Kamis, 03 November 2016

SISTEM CERDAS

Pengertian, Sejarah Singkat dan Contoh Teknologi Sistem Cerdas

Kecerdasan buatan Artificial Intelligent(AI) merupakan cabang terpenting dalam dunia komputer. Komputer tidak hanya alat untuk menghitung, tetapi diharapkan dapat diberdayakan untuk mengerjakan segala sesuatu yang bias dikerjakan oleh manusia. Manusia mempunyai pengetahuan, pengalaman dan kemampuan penalaran dengan baik, agar komputer bisa bertindak seperti dan sebaik manusia, maka komputer juga harus dibekali pengetahuan dan mempunyai kemampuan untuk menalar. dan dalam merepresentasikan pengetahuan lebih banyak menggunakan bentuk simbol-simbol daripada bilangan dan proses informasi berdasarkan metode heuristic1 atau dengan berdasarkan sejumlah aturan.
Artificial Intelligence (AI) merupakan sub bidang pengetahuan komputer yang khusus ditujukan untuk membuat software dan hardware yang sepenuhnya bisa menirukan beberapa fungsi otak manusia.
Kecerdasan Buatan dapat dipandang dari sudut pandang, antara lain :
1. Sudut Pandang Kecerdasan : Kecerdasan buatan akan membuat mesin menjadi 'cerdas' (mampu berbuat seperti apa yang dilakukan oleh manusia).
2. Sudut Pandang Penelitian : Kecerdasan buatan adalah suatu studi bagaimana membuat agar komputer dapat melakukan sesuatu sebaik yang dikerjakan oleh manusia. Domain Penelitian dalam kecerdasan buatan :
  • Mundane task
  1. Persepsi (vision & speech).
  2. Bahasa alami (understanding, generation & translation).
  3. Pemikiran yang bersifat commonsense.
  4. Robot control.
  5. Formal task
  • Permainan/games.
  1. Matematika (geometri, logika, kalkulus integral, pembuktian).
  • Expert task
  1. Analisis finansial.
  2. Analisis medikal.
  3. Analisis ilmu pengetahuan. Rekayasa (desain, pencarian kegagalan, perencanaan manufaktur).
3. Sudut pandang Bisnis : Kecerdasan buatan adalah kumpulan peralatan yang sangat powerfull dan metodologis dalam menyelesaikan masalah-masalah bisnis.
4. Sudut pandang Pemrograman : Kecerdasan buatan meliputi studi tentang pemrograman simbolik, penyelesaian masalah (problem solving) dan pencarian (searching).

Sejarah Sistem Cerdas  
Pada awal abad 17, René Descartes mengemukakan bahwa tubuh hewan bukanlah apa-apa melainkan hanya mesin-mesin yang rumit. Blaise Pascal menciptakan mesin penghitung digital mekanis pertama pada 1642. Bertrand Russell dan Alfred North Whitehead menerbitkan Principia Mathematica, yang merombak logika formal.
Warren McCulloch dan Walter Pitts menerbitkan "Kalkulus Logis Gagasan yang tetap ada dalam Aktivitas " pada 1943 yang meletakkan pondasi untuk jaringan syaraf.

Tahun 1950-an adalah periode usaha aktif dalam AI. Program AI pertama yang bekerja ditulis pada 1951 untuk menjalankan mesin Ferranti Mark I di University of Manchester (UK): sebuah program permainan naskah yang ditulis oleh Christopher Strachey dan program permainan catur yang ditulis oleh Dietrich Prinz. John McCarthy membuat istilah "kecerdasan buatan " pada konferensi pertama yang disediakan untuk pokok persoalan ini, pada 1956. Dia juga menemukan bahasa pemrograman Lisp. Alan Turing memperkenalkan "Turing test" sebagai sebuah cara untuk mengoperasionalkan test perilaku cerdas. Joseph Weizenbaum membangun ELIZA, sebuah chatterbot yang menerapkan psikoterapi Rogerian.

Selama tahun 1960-an dan 1970-an, Joel Moses mendemonstrasikan kekuatan pertimbangan simbolis untuk mengintegrasikan masalah di dalam program Macsyma, program berbasis pengetahuan yang sukses pertama kali dalam bidang matematika. Marvin Minsky dan Seymour Papert menerbitkan Perceptrons, yang mendemostrasikan batas jaringan syaraf sederhana dan Alain Colmerauer mengembangkan bahasa komputer Prolog. Ted Shortliffe mendemonstrasikan kekuatan sistem berbasis aturan untuk representasi pengetahuan dan inferensi dalam diagnosa dan terapi medis yang kadangkala disebut sebagai sistem pakar pertama. Hans Moravec mengembangkan kendaraan terkendali komputer pertama untuk mengatasi jalan berintang yang kusut secara mandiri.

Pada tahun 1980-an, jaringan syaraf digunakan secara meluas dengan algoritma perambatan balik, pertama kali diterangkan oleh Paul John Werbos pada 1974. Tahun 1990-an ditandai perolehan besar dalam berbagai bidang AI dan demonstrasi berbagai macam aplikasi. Lebih khusus Deep Blue, sebuah komputer permainan catur, mengalahkan Garry Kasparov dalam sebuah pertandingan 6 game yang terkenal pada tahun 1997. DARPA menyatakan bahwa biaya yang disimpan melalui penerapan metode AI untuk unit penjadwalan dalam Perang Teluk pertama telah mengganti seluruh investasi dalam penelitian AI sejak tahun 1950 pada pemerintah AS.
Tantangan Hebat DARPA, yang dimulai pada 2004 dan berlanjut hingga hari ini, adalah sebuah pacuan untuk hadiah $2 juta dimana kendaraan dikemudikan sendiri tanpa komunikasi dengan manusia, menggunakan GPS, komputer dan susunan sensor yang canggih, melintasi beberapa ratus mil daerah gurun yang menantang.

Contoh Teknologi Sistem Cerdas 
 
1. Robot Ashimo milik honda yang bisa menar-nari ketika ada manusia yang memberikan contoh gerakan menari salah satu bentuk aplikasi teknologi sistem cerdas dalam robotika. Karena  robot ashimo tersebut dapat bereaksi dan dapat mengenali rasa dan emosional yang ditangkapnya ketika manusia memberikan aksi berupa mengajak menari

2. Teknologi Sistem Cerdas kereta api kecepatan tinggi di cina

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgGQMR58-B4Zw97yTeiCX1TeTSCV1Mei-7ENDyAmBHpmOZ_mPDnpDAsrebPf-6LLeviy5NCXhYT1f0DpDmHJoyBJn8YkE-dASatjzGYnV5OuZimtqJf2Rt2MxcOP5wvHQAcD8alq2Bjfsk/s550/csr.jpg

Foto yang menunjukkan teknologi sistem cerdas pertama untuk kereta kecepatan tinggi china di produksi oleh CSR Qingdao Sifang Co, Ltd di Qingdao, sebuah kota pantai di provinsi shandong China Timur. Tes kereta api, kecepatan tinggi (CRH) 380A kereta sebagai platform teknis adalah kendaraan transportasi besar pertama china yang menerapkan internet teknologi things dan teknologi jaringan sensor dimana penumpang bisa menikmati layanan informasi modern seperti e-ticket dan wifi.

Sumber :
https://kidodi.wordpress.com/2012/02/19/pengertian-sistem-cerdas/
http://sandra4info.blogspot.co.id/p/sistem-cerdas.html
http://ismailadha.blogspot.co.id/2008/03/sejarah-sistem-cerdas.html
http://pelastikroll.blogspot.co.id/2016_10_01_archive.html?view=classic
http://chindonews.blogspot.co.id/2013/07/sistem-cerdas-kereta-api-kecepatan.html